Alasan Tepat Untuk Tidak Menjadi Penulis


Dilarang menulis

Hah? Hari gini mau jadi penulis?
Jika anda orang yang banyak ide, pengalaman dan ilmu, maka berpotensi menjadi penulis, baik di media sosial, blog atau buku. Namun tidak semua orang bisa atau mau menuliskannya. Banyak alasan untuk menjadi penulis namun lebih banyak alasan untuk tidak menjadi penulis. Antara lain :
1. Tidak ada waktu. Daripada ngabisin waktu nulis  lebih asyik nonton TV, main game, chatting sampai puluhan halaman.
2. Takut kelihatan Bodohnya. Pembaca bisa menebak tingkat intelektual penulis. Kebayang jika tulisan kita dibaca para senior, master, guru besar dan profesor. Apa kata dunia?
3. Takut komentar negatif. Di sosial media orang2 lebih suka jadi komentator dibanding pembuat status. Tulisan anda kemungkinan mendapat komentar pedas, caci maki sampai dibully sedunia. Daripada sakit hati, ga bisa tidur lalu bunuh diri, lebih aman buat akun palsu lalu jadi hater jokowi aja.
4. Tidak bisa merangkai kata. Meskipun anda sudah ikut pelajaran Bahasa Indonesia selama 12 tahun sejak SD sampai SMA, tapi tetap saja sulit menulis artikel bisa dimengerti banyak orang bahkan anda sendiri tidak mengerti. Itu karena tujuan kita bersekolah adalah untuk mencari nilai dan ijazah, bukan ilmunya.
5. Takut dicuri ilmunya oleh pesaing. Sayang sekali jika ilmu yang anda dapatkan secara susah payah dan mahal harus dibagikan begitu saja di blog, e-book, atau buku fisik. Bisa-bisa orang yang baca tulisan anda bisa tambah pinter dan mengalahkan popularitas anda. Pesaing anda semakin kaya berkat tulisan berbobot anda.
6. Tidak ada yang bayar. Disuruh nulis sama boss lalu dibayar perhuruf sih, mau jadi penulis. Kalau ga ada yang bayar, ngapain repot-repot nulis. Mendingan jualan di OLX, barang kejual langsung dapet uang.
7. Belum ketemu penerbit yang cocok. Anda mau menulis jika ada penerbit yang mau mengedarkan tulisan anda di gramedia. Jika ketemu penerbitpun anda hanya dapat royalti 10%. Lebih baik jadi penerbit saja lebih besar persentasenya, bisa 50% lebih!
8. Sudah puas dengan penghasilan selain menulis. Kalau pekerjaan anda menghasilkan 3 juta perhari sih lebih baik tidak usah nulis. Fokus saja pada pekerjaan perfect tadi.
9. Royalti di Akherat? Katanya setelah mati, pahala yang masih mengalir adalah anak yang soleh, amal jariah dan ilmu yang bermanfaat. Saat ini belum anda bukti bahwa ilmu yang disebar di blog, menjadi royalti di akherat. Kecuali anda mencoba mati lebih dulu.

Dengan alasan-alasan di atas maka jelaslah, tidak usah repot-repot jadi penulis baik di koran, buku, blog, sosmed atau di tembok. Biarlah saya dan teman-teman saja yang jadi penulis, karena jika anda ikut-ikutan nulis, khawatir penghasilan saya turun, OK.

3 pemikiran pada “Alasan Tepat Untuk Tidak Menjadi Penulis

  1. saya tidak setuju dengan pandapat anda, mohon diklarifikasi!

  2. Nice sarcasm
    FYI, saya komentar diwaktu dosen nyuruh CBSA (catat buku sampai habis) enakan internetan ternyata LOL

    Iya nih di kepala rasanya udh kaya wikipedia bngt pngn dituangkan dlm tulisan, tapi pas udh dapet 5 paragraf hasilnya seperti nomor 4, ngga bisa ngerangkai kata dan bikin diri sendiri mumetz pas bacanya lagi.
    Semangat semangat, banyak baca banyak nulis, penulis sudah pasti banyak baca, pembaca belum tentu menulis (seperti saya)😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s